JANGAN BERSEDIH
Sulit memang menerima kenyataan pahit yang sama sekali tak pernah kita inginkan. Namun demekian, ibarat nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau kita harus menerima semua yang terjadi sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi dan keyakinan, bahwasanya semua yang mengatur rizki, takdir, jodoh dan kematian hanyalah Allah, Sang pemilik segalanya. Sehingga akhir dari dari usaha adalah tawakkal dan menerima segala yang akan terjadi dengan syukur bahwa itu adalah yang terbaik dari Allah buat hambanya
Menerima kenyataan dengan lapang dada berarti rela, padahal rela dan tidak rela adalah sikap yang berkaitan dengan kondisi jiwa, mudah mengungkapkannya tapi sulit untuk dipraktekkan. Setiap kali kita berkeinginan merelakan sesuatu dan ridha dengan semua yang terjadi, saat itu pula kita harus bertarung dengan gejolak jiwa yang seolah memaksa kita untuk bersedih…
(Robe—taken from your diary)
April 11, 2008 pada 9:24 am
Bener juga tuh! Memang tawakkal itu sulit untuk diterapkan walaupun sangat mudah diucapkan. Cuma aku nggak setuju buanget dengan yang namanya JODOH, RIZQI itu diatur oleh Allah semata tanpa usaha. Kedua hal di atas berbeda dengan kematian yang memang setiap manusia pasti merasakannya kelak. Jodoh dan Rizqi adalah sesuatu yang butuh usaha. Allah memberikan perintah kepada manusia untuk menyebar setelah shalat jumat untuk mencari rizki, di sinilah Allah mengisyaratkan sebuah usaha. Sedangkan pada jodoh Allah menyuruh untuk menikah! dan Allah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan. Lantas pada kematian adakah Allah memerintahkan manusia untuk terus berusaha hidup menantang kematian? atau pernahkah Allah memerintahkan manusia untuk Mati? Setiap orang pasti mati, tapi tidak semua orang mempunyai istri atau tidak semua orang memiliki kekayaan. (taken from my hearth)