LAUT TELAH MENGAJARIKU CINTA

“Jangan lagi kau tanyakan tentang darat, Dekna,” ucap Ayahku tiba-tiba sambil tetap memegangi nilon yang rendam di laut, “tak ada yang patut diharapkan lagi dari darat, Dekna. Selain kenangan mengenaskan atau luka tentang pembakaran dan penganiayaan itu, Dekna. Kembali ke darat, berarti kita kembali menyalakan api yang sudah lama kita padamkan di asin laut ini, Dekna. Ya, api yang Menghanguskan angan-anganmu, Dekna untuk sekolah ke Amerika” ayahku tersenyum, tapi matanya tiba-tiba sembab dan mengusapnya dengan baju lusuh yang sedang ia kenakan. Aku tahu, bagaimana ayahku begitu menyayangi ibu, sampai-sampai Ayah tak bisa tidur karena memikirkan ibu yang sedang berada di rumah nenek, untuk merawatnya yang sedang sakit. Ibu bagaikan rembulan yang selalu menerangi di kala malam, setidaknya, begitulah ayah mengumpamakan ibu.

“Sudahlah, Mas, Laut tak akan surut semudah teh yang sedang mas minum saat ini, istirahatlah dulu barang sehari” begitulah ibu berujar, kalau melihat ayah terlalu ngoyo bekerja sehingga lupa diri, sedang batuknya terus manja di kerongkongannya. “tak baik menyiksa diri hanya untuk kebahagiaan dunia semata, Mas. Selama ini kita sering lupa shalat jemaah, sampai-sampai puasa senin kamis yang dulu pernah Mas ajarkan kini hanya tinggal kenangan.” Tapi walau bagaimanapun, ayah tetap saja ngotot bekerja, karena setahunya, Rosul tak pernah mengajarkan keputusasaan bagi umatnya. Ibadah dan pekerjaan harus seimbang, katanya. Aku pun percaya.

Maka, kini kami menyeimbangkan diri dengan laut. Laut dan aku, juga ayah adalah suatu ikatan yang tak kan mungkin terlepas.

Waktu itu hari minggu, ayah mengajakku untuk ikut berlayar, memancing ikan di lautan, di samudera luas. Aku pun ikut, selain kebahagiaan karena bisa melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah, yang sudah disebutkan-Nya di surat ar-rahman, juga terasa ada kebanggaan tersendiri dari berlaut itu. Ada satu prinsip yang aku tanamkan di jiwaku, bahwa aku hidup untuk hidup, bukan untuk mati. Maka benar kata Chairil Anwar, sekali berarti sudah itu mati. Apalagi di desa ada sebuah pepatah, buat apa badan besar, kalau nyatanya tak bisa berenang dan memancing. Berkaca pada pepatah itu, maka saya sangat malu sekali, dan beraib bila aku sebagai orang yang berayah pelaut, tak bisa berlaut, walau hanya sekedar mengambil jaring atau meletakkan rompong di laut. Benar apa kata tetangga “kita lahir dari laut, maka kita harus bisa melaut.” Maka jarang sekali di Masalembu ini ada anak muda yang sudah kuat makan sepiring tidak tahu tentang rompong apalagi tidak bisa berenang.

Di selat Karamean, kami meletakkan jangkar. Meletakkan umpan pada pancing kami masing-masing. Ayah bersorak, pancingnya kecantol ikan kerapu besar, yang sekiranya dijual bisa mencapai harga tiga puluh ribu. Padahal, baru saja dia melempar pancingnya, sama denganku. Tapi aku, aku hanya bisa menunggui pancing yang kulempar barusan. Tak ada ikan yang mendekati pancingku, selain arus dan ombak, mungkin hanya ikan-ikan kecil memainkan nilonku yang tak akan memakan pancingku, karena jangankan masuk ke mulutnya, nyantol saja mustahil. Kulirik ayah, sedikit demi sedikit kudekati dia. Tanganku mencoba meraih ikan-ikan besar yang berada di sisi kanan ayah.

“Daar!” ayah mengagetkanku, rupanya dia sudah tahu rencanaku. Aku tertawa malu, ketahuan nakalku.

“Ayah kok bisa sih, dapet ikan sebanyak gitu?“ aku mulai bertanya.

“Dekna, Dekna, memancing itu sama dengan melukis atau memahat, butuh kesabaran. Kalau ada ikan ya syukur tapi kalau tidak, ya mau gimana lagi, toh Allah yang menentukan semua ini, kita tak bisa apa-apa, selain berdo’a. Tapi kamu tahu nggak? Dari memancing itu, kita sebenarnya sudah belajar tentang kesosialan negara komunis. Sebab saat kita memancing, kita mustahil tidak memberi umpan di pancing kita, nah hal itu sama dengan negara komunis itu, mereka memberi umpan kepada negara yang diincarnya, lalu nanti bisa kapan saja menguasai negara incarannya itu dengan umpan itu tadi“ aku menganggukkan kepala, walau tak semuanya kumengerti.

“Ayah! Ayah! Dapet, Ayah. Aku dapet ikan bambangan!“ Ikan teriakku seru, melihat ikan bambangan di pancingku. Tubuhnya jingkrak-jingkrak seperti ratu ngebor.

“Nah, begitulah, Dekna. Kamu nggak pernah menyangka kan, bakal ada ikan nyangkut di pancingmu? Itulah kekuasaan Tuhan, maka maha benar Allah bila dia bertanya, fabiayyi alaai rabbikumaa tukaddzibaan! Dan dengan apalagi Rahmat Tuhanmu akan kau dusatakan!“ aku menerawang, walaupun ayah tak mengajariku secara formal di sekolah, tapi aku merasa dialah guru agamaku pertama kali dan yang sangat berpengaruh akan tingkat keimananku.

Malam semakin larut. Aku baru dapet lima ikan besar yang cukup membanggakan bagiku, walau jenisnya hanya ikan bambangan dan cangleng. Tapi itu tidak jadi masalah, sebab harganya tak kalah tinggi dengan ikan-ikan lain yang sudah ayah tangkap tadi. Yang namanya ikan bambangan, harganya tidak jauh dari dua puluh lima ribu rupiah, sedang ikan layang, ikan kawan dan semacamnya, hanya berkisar lima belasan atau dua puluhan di pasaran. Aku menguap keras. Tak kuasa menahan kantuk. Tapi ikan di sampingku ini selalu menyemangatiku untuk terus berjuang memancing ikan, dan mendapatkannya lebih banyak lagi dari sekarang ini. Karena selain senang, aku yakin Allah pasti memberi balasan bagi anak yang berbakti pada orang tuanya.

“Sudahlah, Dekna, kalau kamu sudah ngantuk, biarlah ayah mancing sendiri, kalau kamu paksakan diri, nanti kamu sakit. Kesehatanmu lebih ayah butuhkan, Dekna.“ Mendengar perkataan itu, aku tidak bisa menolak. Sebab aku yakin ayah pasti ingin memberikan yang terbaik buatku. Aku masuk kamar perahu, aku rebahkan tubuhku di sana, di ruangan yang hanya berukuran empat kali dua meter itu. Tapi di sana aku dan ayah membuat subuh dan menambatkan tahajjud seperti jangkar yang kulempar tadi. Berada di dek ini, aku sudah merasa berada di hotel berbintang, walau aku tak juga pernah merasakan hotel yang tak berbintang sekalipun. Ha…ha…ha… .Di luar, ayah masih tetap bersama dengan pancingnya, menghabiskan malam sambil memasukkan ikan yang sudah didapatnya ke bok berisi es balok untuk mengawetkan ikan-ikan itu. Biasanya, Ayah berlaut untuk mancing ikan sampai berlama dua atau tiga hari, tapi khusus hari minggu, dia hanya berlaut satu hari satu malam, sebab aku harus sekolah, katanya.

“Ambil jangkarnya, Dekna!“ teriak ayah padaku. Aku mengangguk.walaupun berat, aku tetap mengangkat jangkar itu.

“Kita sekarang kemana, Yah?“ tanyaku dengan teriakan pula. Bukan congkak, tapi karena angin selalu menyembunyikan suara kami.

“Kita ke perahu Pangesan dulu, kita jual ikan-ikan ini, di sana!“ serunya lagi. Ayah sudah rampung memasukkan ikan-ikan itu ke dalam bok. Dia tersenyum puas.

“Kamu mau beli apa, Man?”

“Nggak, Yah,” aku berpura-pura, sebab aku tak berani membebaninya dengan sesuatu yang sepertinya tak perlu.

“Bukan begitu, Dekna, ini hasil kerjamu juga, kok. Jadi sangat pantas sekali jika kamu mendapat imbalan dari usaha kerasmu melawan arus.”

“Gimana kalau begini saja,” ideku, “kita pulang, ajak ibu pergi ke toko perhiasan, nah, di sana kita belikan dia kalung. Kan besok, hari ulang tahunnya, Yah!” ayah manggut-manggut tanda setuju seratus persen.

“Pinter juga anakku ini,” katanya seraya memelukku.

Pancer diarahkan ke arah selatan, aku duduk di depan, meniru kate winslet di film Titanic. Kubayangkan betapa bahagianya ibu, bila dia tahu kalau ayah akan mengajaknya ke pasar untuk beli kalung, layaknya ibu-ibu rumah tangga lainnya, di samping kanan kiri rumah.

Ibu bahagia, ayah bahagia, rumah tangga yang sakinah, sudah cukup buatku. Karena sekarang banyak neraka di rumah mewah, berdinding marmer.

Sesampainya di pantai, ayah menambatkan perahunya ke pohon kelapa dekat yang menjorok ke laut, tapi tak ada yang menyambut, padahal biasanya, ibu selalu ada di sana, dekat pohon camplong itu,walaupun ayah selalu menegurnya untuk tidak disana, karena setan selalu datang mengganggu pada manusia.

Ayah membawaku dengan tenang, di saku celananya. Uang sebesar tiga ratus ribu rupiah tersimpan rapi. Ya tentunya uang berbau ikan. Amis!.

Rumah tenang, tak satu pun suara terdengar dari dalam rumah, orang-orang memandangiku dan ayah penuh tanda Tanya. Aku sempat ketawa, ketika ayah berkata akan menyekolahkanku ke Amerika kalau penghasilannya tiap hari seperti ini. lucu, kan?! Orang yang hanya berpenghasilan dari berlaut, bercita-cita ingin menyekolahkan anaknya ke Amerika. Jangankan ke Amerika, ke Jakarta saja untuk kuliah, itu pun mungkin.

“Katanya, gantunglah cita-citamu setinggi mungkin. Malahan, ayah sempat baca di majalah yang sering kamu baca itu, A a a apa itu?”

“Annida!”

“Nah, Annida. Gantunglah cita-citamu setinggi mungkin, kamu nggak mungkin jatuh kok!” ayah memainkan alisnya. Tapi sepi masih terasa, pas di depan rumah ayah mengetuk pintu, semula hanya ketukan kecil sambil berucap salam. Tapi setelah ayah menggedor-gedor pintu, tak juga ada jawaban.

“Anisah! Buka Anisah!” ayah berteriak, bukan marah akan tetapi ingin memastikan kalau di dalam ada sosok ia cari, Anisah, ibuku.

Ayah mencoba menggedor dari pintu belakang, mungkin ibu sedang memasak, tapi tak ada jawaban, Ayah memutuskan untuk mendobrak pintu depan. “Anisaaaaaaaah!” ayah berteriak keras, mungkin sedesa mendengar teriakan ayah, tapi tak ada yang memperdulikannya, apalagi mendekat. Di sana, di ranjang utara tempat kami ngumpul ketika malam tiba, ibu ditemukan terbujur kaku, tanpa sehelai pakaian di tubuhnya, ayah memeluki tubuh ibu yang terbujur kaku itu, aku hampir lindap, seandainya tak terpikirkan selimut di otakku untuk menutupi tubuh ibuku. Aku berteriak keluar, meminta tolong. “Tolooong! Toloong!” tapi tak ada jawaban. Cuma ayah seketika memanggilku dengan suara parau, “Kemarilah, Dekna!” ayah memperlihatkan selembar kertas, yang bertuliskan dengan jari yang dilumuri darah.

Syuhada’, suamiku. Maafkanlah, aku harus pergi sekarang, meninggalkanmu sebelum malam. Tapi kuharap kau bisa menerima ini semua. Karena ini takdir Allah yang maha kuasa. Aku diselimuti kekecewaan yang sangat, bila di dadamu ada dendam. Selanjutnya, aku sangat berharap, Dekna diajari tentang agama yang Mas tahu, lepaskanlah aku dengan takbirmu, dan akhiri dengan al-fatihahmu,

Untuk Dekna, anakku, ibu hanya bisa berharap, agar jangan pernah mau kaya, bila imanmu tak bisa dipercaya.

Anisah.

Ayah menangis sekeras-kerasnya. Didekapnya ibu sekali lagi, bukan hanya goresan di hati ayah, akan tetapi tebasan mengenai hatinya. Lindapku akhirnya benar terjadi.

Saat aku bangun, Ayah sudah memegang celurit yang berlumuran darah. aku dengar dia berbisik pada jasad ibu.

“Maafkan aku Anisah, tak kan mungkin aku mengganjal dendam di hati, hanya dengan berserah diri, karena kalau aku begitu, berarti aku banci, dan dia akan berbuat keji lagi kepada orang lain di desa ini.”

“Kenapa Ayah?” tanyaku ketika kesadaranku sudah pulih kembali.

“Jangan tiru Ayah, Dekna. Ayah sudah bukan pelaut yang belajar hidup dari memancing. Emosi dan dendam lebih kuasa di hati.”

“Bagaimana dengan ibu, Yah?”

“Kita sholati sendiri, kita kubur sendiri, karena kita hanya sendiri selain Allah dan malaikat-malaikatnya, karena begitulah Ahmadun Yosi Herfanda menafsirkan, Kita tak pernah benar-benar sendiri, kesendirian adalah kita yang dilupakan.

Malam larut, kami tak sedang berada dirumah atau di laut, kami jauh dari manusia, kesendirian adalah bagian dari kami sekarang ini.

“Ambillah korek itu, Dekna. Kita bakar rumah kita.”aku mengangguk pasti.

Rumah terbakar, kami pun berlari, berlari ke pantai. Karena pasti polisi akan memburu ayah yang sudah melumuri tubuh Bajing Juhari dengan celuritnya.

Di tengah laut aku bertanya, pelan, sepelan arus yang kulihat di muka samudera.

“Ayah, Kenapa ibu dibunuh?”

“Ibu di bunuh, karena kepada kita mereka tak merasa butuh”

“Hanya itu?”

“Sudahlah, Dekna. Pada laut kita berdebur, tapi Allah jangan sampai tersalip dengkur!” ayah mengecup keningku untuk yang kesekian kalinya. Aku pun sujud membuat rekah tumit.

Qalam Office, 26 Mei 2005 M

Untuk Istriku Robiah Al-Adawiyah

Tuk teman-temanku Sunthr3eeone

SAMARAKAMI

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.